Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia disingkat ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia. Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo. Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional.

Kemudian para mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafi?i Anwar menghadap Menristek Prof. B.J. Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi beliau bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan B.J. Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.

Pada tanggal 27 September 1990, dalam sebuah pertemuan di rumahnya, B.J. Habibie memberitahukan bahwa usulan sebagai pimpinan wadah cendekiawan muslim itu disetujui Presiden Soeharto. Beliau juga mengusulkan agar wadah cendekiawan muslim itu diberi nama ?Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia?, disingkat ICMI. Tanggal 28 September 1990, sejumlah cendekiawan muslim bertemu lagi dalam rangka persiapan simposium yang akan diselenggarakan bulan Desember. Pada tanggal 25-26 November 1990, sekitar 22 orang cendekiawan yang akan membentuk wadah baru berkumpul di Tawangmangu, Solo dalam rangka merumuskan beberapa usulan untuk GBHN 1993 dan pembangunan Jangka Panjang Tahap kedua 1993-2018 serta rancangan Program Kerja dan Struktur Organisasi ICMI.

Tanggal 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru, secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Bahharuddin Jusup Habibie sebagai Ketua Umum ICMI yang pertama. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia, karena itu juga merupakan tugas utama.

Muktamar I 6-8 Desember 1990 di Kota Malang Baharuddin Jusuf Habibie 1990-1995

Muktamar II 7-9 Desember 1995 di Jakarta Baharuddin Jusuf Habibie 1995-2000

Muktamar III 9-12 November 2000 di Jakarta Adi Sasono 2000-2005

Muktamar IV 4-7 Desember 2005 di Makassar Marwah Daud Ibrahim (Presidium) 2005-2006, Nanat Fatah Natsir (Presidium) 2006-2007, M. Hatta Rajasa (Presidium), Muslimin Nasution (Presidium), Azyumardi Azra (Presidium)

Tokoh ICMI :

A

Burhanuddin Abdullah

Ismeth Abdullah

Muhammad Imaduddin Abdulrahim

Kadir Abdussamad

Tanri Abeng

Muchtar Adam

Ary Ginanjar Agustian

Tuty Alawiyah

Suryadharma Ali

Aisyah Aminy

Azwar Anas

Bustanil Arifin

Jimly Asshiddiqie

Hamid Awaluddin

Azyumardi Azra

B

Aburizal Bakrie

C

Bachtiar Chamsyah

D

Rokhmin Dahuri

Adhyaksa Dault

Sofyan Djalil

E

Taufiq Effendi

F

Abdul Malik Fadjar

A. M. Fatwa

G

Abdullah Gymnastiar

H

Bacharuddin Jusuf Habibie

Ahmad Hambali
H samb.

Syarwan Hamid

Harmoko

Muhammad Tholchah Hasan

Basri Hasanuddin

Hamzah Haz

Aida Vitayala Sjafri Hubeis

I

Fahmi Idris

J

Satrio Budihardjo Joedono

K

M. S. Kaban

Ginandjar Kartasasmita

L

Agung Laksono

M

Ahmad Syafi’i Ma’arif

Nurcholish Madjid

Mohammad Mahfud

Ahmad Makkie

Dedy Djamaluddin Malik

Bagir Manan

Anis Matta

Mohammad Andi Mattalatta

Yahya Muhaimin

Fadel Muhammad

Muladi

Seto Mulyadi

N

Anwar Nasution

Muslimin Nasution

Mohammad Nuh
P

Nelson Pomalingo

R

Didik J. Rachbini

Arief Rachman

Hatta Rajasa

Dawam Rahardjo

Amien Rais

Ryaas Rasyid

Rudini

S

Hasballah M. Saad

Emil Salim

Adi Sasono

Muhammad Quraish Shihab

Sudi Silalahi

Soegiharto

Soetrisno Bachir

Bambang Sudibyo

Lutfiah Sungkar

Paskah Suzetta

Muhammad Sirajuddin Syamsuddin

T

Tarmizi Taher

Akbar Tanjung

Achmad Tirtosudiro

Abdillah Toha

W

Hidayat Nur Wahid

Salahuddin Wahid

Y

Muhammad Yunus Yosfiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s